Bengkalis – NUANSA POST
Setiap tanggal 1 Mei, dunia memperingati Hari Buruh Internasional sebagai simbol perjuangan kaum pekerja dalam melawan ketimpangan dan eksploitasi. Di Indonesia, momentum ini memiliki makna historis yang mendalam, bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan cermin dari perjalanan panjang buruh dalam menuntut keadilan dan pemenuhan hak-hak dasar mereka.Rabu(30/4/2025)
Sejarah mencatat perjuangan buruh tidak hanya soal tuntutan waktu kerja dan upah layak, tetapi juga perlawanan terhadap bentuk-bentuk penindasan, termasuk kekerasan fisik. Di era modern, bentuk eksploitasi buruh mengalami pergeseran seiring perkembangan teknologi dan digitalisasi.
Saat ini, tantangan terbesar yang dihadapi buruh muncul dalam bentuk kerja tanpa kontrak formal, tanpa jaminan sosial, dan tanpa kepastian pendapatan. Fenomena ini paling nyata terlihat pada pekerja di sektor ekonomi digital, seperti pengemudi ojek daring dan kurir layanan antar. Mereka berada dalam zona abu-abu yang tidak diakui sebagai karyawan tetap, namun juga tidak sepenuhnya mandiri sebagai pengusaha.
Model kerja berbasis algoritma menciptakan bentuk baru dari sistem kontrol yang tidak kasat mata. Penilaian kerja ditentukan oleh sistem rating, kecepatan respons, dan kepuasan pelanggan, bukan lagi pengawasan langsung dari atasan. Ini menjadi bentuk baru dari eksploitasi yang lebih halus, namun tetap menekan.
Namun demikian, di balik tantangan tersebut terdapat peluang baru bagi kaum buruh. Digitalisasi juga memungkinkan terbentuknya jaringan perjuangan lintas organisasi dan lintas negara secara lebih cepat dan efisien. Aksi solidaritas global kini dapat digelar secara daring dengan biaya rendah namun berdampak luas.
Perjuangan buruh di era digital bukan sekadar mempertahankan model kerja lama, tetapi menyesuaikan diri dengan masa depan yang mengedepankan keadilan dan kesejahteraan melalui pemanfaatan teknologi. Teknologi bukan musuh, melainkan alat. Siapa yang menggunakannya dan untuk tujuan apa menjadi penentu apakah teknologi akan membebaskan atau menindas.
Buruh akan tertinggal jika pasif dalam menghadapi digitalisasi. Sebaliknya, mereka bisa memenangkan perjuangan jika adaptif dan terorganisir dalam memanfaatkan peluang yang ditawarkan era digital. ( RIAN SUMARLIN)
