Uncategorized

Gubernur Dedi Mulyadi Resmikan Pusat Kebudayaan Tionghoa Didampingi Ketua MASDA Jabar Abah Anton Charliyan

28

BANDUNG – Pada hari Selasa 25 Agustus 2026, Ketua Masyarakat Sunda (MASDA) Jawa Barat Irjen Pol (Purn) Dr.H.Anton Charliyan mendampingi Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi meresmikan gedung Pusat Kebudayaan Tionghoa Jawa Barat di Jl. Nana Rohana No. 99  Kota Bandung.  

Sejumlah tokoh turut menghadiri kegiatan tersebut, di antaranya Duta Besar Republik Rakyat China untuk Indonesia, Wakil Menteri Perhubungan Suntana, mantan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Enggartiasto Lukita, Wali Kota Bandung Muhammad Farhan, serta sejumlah tokoh masyarakat Sunda dan Tionghoa Jawa Barat.Hadir pula tokoh Sunda Popong Otje Djundjunan, Prof. Didi dari Paguyuban Pasundan, serta sejumlah tokoh masyarakat Tionghoa Jawa Barat.

Sebagaimana diketahui, bahwa pusat kebudayaan tersebut dikembangkan oleh Yayasan Dana Sosial Priangan (YDSP) Buddha Tzu Chi Jawa Barat dibawah pimpinan Herman Wijaya. Kehadirannya diharapkan menjadi ruang untuk memperkenalkan, melestarikan, sekaligus mempertemukan budaya Tionghoa dengan kebudayaan lokal Jawa Barat.

Dalam kata sambutannya, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menekankan pentingnya melihat kebudayaan Tionghoa sebagai bagian dari dinamika kebudayaan yang berkembang di Jawa Barat.

Menurut KDM panggilan akrab Gubenur Dedi Mulyadi, keberadaan pusat kebudayaan tersebut dapat menjadi ruang kolaborasi antara budaya Tionghoa dan budaya Sunda sehingga melahirkan kekayaan budaya yang semakin beragam.“ Kita sebagai  masyarakat Sunda Jabar harus menyadari bahwa budaya Tionghoa saat ini sudah merupakan bagian dari budaya Sunda , dan harus mampu memperkaya budaya Sunda .Dengan adanya Pusat Budaya Tionghoa di Bandung , budaya Tionghoa harus mampu berkolaborasi dengan budaya Sunda , sehingga terjadi sinergi atau akulturasi budaya yang mampu menjadi kekayaan budaya Sunda masa kini,” ujarnya

KDM berharap interaksi kebudayaan tersebut tidak hanya memperkaya khazanah budaya Jawa Barat, tetapi juga memperkuat hubungan sosial antarmasyarakat.

Sementara itu di tempat yang sama, Ketua MASDA Jawa Barat Abah Anton Charliyan mengatakan pendekatan kebudayaan dapat menjadi sarana memperkuat persatuan masyarakat tanpa membedakan latar belakang etnis maupun agama.

Menurut mantan Kapolda Jabar ini, masyarakat Tionghoa dan Sunda dapat terus membangun kebersamaan melalui berbagai kegiatan kebudayaan.“Melalui pendekatan budaya yang tidak mengenal ras, etnis maupun agama, masyarakat Tionghoa dan Sunda diharapkan dapat semakin bersatu dan guyub. Di negara kita ada semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Melalui budaya, kita dapat memperkuat persatuan sebagai bangsa Indonesia,” jelasnya.(REDI MULYADI)***

Exit mobile version