Uncategorized

Tangani Sampah Kota Bandung, Mendiktisaintek Kerahkan Kampus

8
×

Tangani Sampah Kota Bandung, Mendiktisaintek Kerahkan Kampus

Sebarkan artikel ini

Kota Bandung, NUANSA POST

Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Brian Yuliarto, siap bantu Pemkot Bandung atasi masalah sampah. Salah satu caranya, mahasiswa akan dilibatkan dalam Kuliah Kerja Nyata (KKN) untuk membantu menangani sampah.

Brian menyebut Bandung punya modal kuat, yaitu jejaring perguruan tinggi besar dan jumlah mahasiswa yang banyak. Jadi, kampus akan dilibatkan dalam pemetaan kebutuhan infrastruktur, kajian model bisnis, edukasi masyarakat, dan lain-lain.

“Pendekatan ini lebih efisien daripada bangun fasilitas waste to energy yang mahal,” kata Brian.

Program ini akan melibatkan kampus, pemerintah pusat, Pemkot Bandung, dan unsur TNI-Polri untuk pengawasan limbah sampah terutama sektor horeka (hotel, restoran, dan kaffe)., Ada juga rencana penegakan hukum bagi yang tidak patuh.

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, mengungkapkan bahwa saat ini Bandung menghasilkan 1.507,85 ton sampah per hari. Sekitar 60% dari rumah tangga, dengan dominasi sisa makanan dan daun.

Namun, berdasarkan evaluasi Kementrian Lingkungan Hidup, yang benar – benar sampah dikelola, dipilah, diolah, dan dimanfaatkan baru sekitar 21,63%. Dan sisanya masih mengalir ke TPA atau tercecer di lingkungan.”Kita harus ubah mindset, sampah harus hilang. Sampah bukan soal hilang, tapi harus dikelola,” cetus Farhan.

Pemkot Bandung meluncurkan program Gaslah (Petugas Pemilihan dan Pengolah Sampah), dan sudah merekrut 1.597 petugas Gaslah dengan syistem satu orang per RW untuk mengetuk rumah warga, mengedukasi pemiliham, sekaligus mengangkut sampah organik. Tiap petugas ditarget mengumpulkan minimal 25 kilogram sampah organik per harinya.

Program ini ditopang anggaran sekitar Rp24 miliar per tahun dan dipantau melalui dashboard digital real-time yang juga menjadi indikator kinerja camat dan lurah.

“Tanpa rekayasa sosial dan enforcement, tidak akan selesai. Hulu harus beres dulu,” imbuhnya.

Pemkot Bandung mengintegrasikan Kang Pisman, Buruan Sae, dan Dapur Sehat Atasi Stunting dalam satu ekosistem sirkular yang solid.

Sampah organik diolah menjadi kompos dan maggot, yang kemudian dimanfaatkan untuk urban farming.

Hasil panen digunakan untuk dapur warga, dan sisa dapur kembali dikelola dengan baik.

“Ini adalah sirkular Bandung Utama! Kita bangun budaya, bukan hanya teknologi,” tegas Farhan.

Lantas ia menambahkan bahwa kunci keberhasilan adalah menurunkan produksi sampah per orang. Saat ini, warga Bandung menghasilkan rata-rata 0,58 kg sampah per hari. Targetnya, harus ditekan di bawah 0,4 kg.”Tanpa kesadaran, teknologi apa pun akan gagal,” pungkasnya. (RIEZCKY)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *