Oleh: Ratu Raja Okki Jusuf Judanagara
TIDAK ada sejarah yang bisa “disembunyikan”, yang ada itu “Sensor Sejarah” maupun “Pseudo-Sejarah”. Pernyataan ini mengasumsikan bahwa ada sejarah yang sengaja disembunyikan, padahal dalam studi sejarah, yang terjadi biasanya adalah sensor, atau pseudo-sejarah, bukan “penyembunyian” dalam arti mutlak.
Sensor terjadi ketika suatu informasi sengaja dihapus atau diubah untuk kepentingan politik atau ideologis (contoh: rezim otoriter yang menyensor fakta sejarah yang merugikan mereka). Pseudo-sejarah adalah narasi sejarah yang dibentuk berdasarkan mitos, propaganda, atau teori konspirasi yang tidak didukung oleh bukti ilmiah.
Banyak peristiwa sejarah yang sebelumnya tidak diketahui akhirnya terungkap berkat penelitian arkeologi, deklasifikasi dokumen pemerintah, dan kajian ulang terhadap sumber-sumber lama. Sejarah yang sebelumnya kurang diketahui bisa terungkap dengan bukti baru dan kajian akademik yang lebih objektif.
CONTOH :
Peta Kuno Ini Menyebut Kerajaan Sunda, kenapa sejarah kita diam ?
- Bagian 1 https://youtube.com/watch?v=aVR4WcIPkdE&si=NEQpVm0sGMMxBIyu
- Bagian 2 https://youtube.com/watch?v=gE6n1BRPW1Q&si=xkUW6IQYe4Sl1wal
- Bagian 3 https://youtube.com/watch?v=tHuX2IU0bPo&si=VLo9SBwSSgU8RIaR
- Bagian 4 https://youtube.com/watch?v=HRx4gT2orp8&si=h3Yb9YTBLunj-dWk
Ada pepatah yang mengatakan “Bangsa yg besar adalah bangsa yg menghargai sejarahnya”, tetapi bagaimana mungkin suatu bangsa bisa menghargai sejarahnya jika membaca buku sejarah saja enggan ?
Kemudahan akses informasi di era internet kini seharusnya membuat lebih banyak orang mudah untuk belajar sejarah, tetapi yang terjadi justru sebaliknya. Pola pikir instan dan budaya konsumsi informasi cepat membuat orang lebih suka membaca ringkasan atau cuplikan singkat daripada memahami konteks sejarah secara utuh. Buku-buku sejarah menumpuk di perpustakaan dan toko buku, sementara masyarakat lebih memilih menghabiskan waktu dengan hiburan ringan.
Tanpa kesadaran untuk belajar, tidak peduli seberapa besar fakta sejarah tersedia, tetap saja sejarah itu akan “tersembunyi” — bukan karena ada konspirasi untuk menutupinya, tetapi karena masyarakat sendiri tidak mau membuka mata untuk melihatnya.
KESIMPULANNYA:
Sejarah itu ada, tapi maukah kita mencari dan mempelajarinya ?
Alih-alih bertanya “Mengapa banyak sejarah disembunyikan ?”, pertanyaan yang lebih tepat dan mungkin lebih masuk akal adalah :”Mengapa banyak orang tidak mau berusaha mencari dan memahami sejarah bangsanya sendiri ?”
Fakta sejarah itu pasti ada. Buku-buku sejarah juga banyak tersedia. Jurnal akademik kini lebih mudah untuk bisa diakses. Namun, jika masyarakat tidak tertarik untuk membaca, mendiskusikan, dan mempelajari sejarah secara kritis, maka sejarah itu akan tetap terasa “hilang” bagi mereka.
Jadi, jika ingin menemukan sejarah yang “disembunyikan”, mulailah dengan membuka buku, internet agar bisa belajar, membaca lebih banyak, dan berpikir lebih kritis.(*****






