Uncategorized

Inilah Kisah Pilu Siti Nurlela: Berjuang Melawan Gagal Ginjal, Sang Ibu Terpaksa Berutang ke Rentenir Demi Napas Sang Buah Hati

25
×

Inilah Kisah Pilu Siti Nurlela: Berjuang Melawan Gagal Ginjal, Sang Ibu Terpaksa Berutang ke Rentenir Demi Napas Sang Buah Hati

Sebarkan artikel ini

Ciamis NUANSA POST

Dibalik riuhnya suasana RSUD Ciamis, tersimpan sebuah perjuangan hidup mati yang menyayat hati. Siti Nurlela, seorang gadis yang seharusnya menikmati masa mudanya, kini harus terbaring lemah berjuang melawan penyakit gagal ginjal kronis. Namun, beban berat tidak hanya dirasakan Siti, melainkan juga “sang ibu”  Ibu Cicih, yang harus memutar otak demi menyambung napas putrinya. Rabu 31/12/2025)

Ibu Cicih, warga Desa Nasol Kecamatan Cikoneng ini, mengungkapkan betapa sulitnya kondisi ekonomi keluarga di tengah biaya pengobatan yang mencekik. Meski perawatan rumah sakit terbantu oleh BPJS Mandiri, ada kebutuhan vital yang tidak sepenuhnya tertutup dan harganya sangat mahal bagi rakyat kecil: Oksigen.

Napas yang Berbayar Mahal

Bagi Siti Nurlela, oksigen bukan lagi sekadar udara gratis, melainkan barang mewah yang harganya mencapai jutaan rupiah. Ibu Cicih menuturkan bahwa satu botol tabung oksigen besar dihargai sekitar Rp1,5 juta.

“Untuk isi ulangnya saja Rp150 ribu per hari. Itu hanya bertahan dari waktu Ashar sampai jam 9 pagi keesokan harinya. Sorenya, saya harus beli lagi,” ungkap Ibu Cicih dengan mata berkaca-kaca saat ditemui di depan RSUD Ciamis.

Terjebak Jeratan Rentenir

Pekerjaan Ibu Cicih yang hanya sebagai ibu rumah tangga dan suaminya yang bekerja sebagai buruh serabutan membuat mereka tak punya pilihan lain. Demi memastikan Siti tetap bisa bernapas, Ibu Cicih mengaku terpaksa meminjam uang ke rentenir.”Kekurangan biaya, Pak. Gak ada uang. Akhirnya pinjam ke rentenir karena sudah tidak ada jalan lain,” tuturnya lirih.

Dalam sebulan, biaya untuk oksigen saja bisa mencapai lebih dari Rp4,5 juta. Angka ini belum termasuk iuran BPJS Mandiri sebesar Rp150 ribu untuk empat anggota keluarga yang harus ia bayar setiap bulannya agar layanan kesehatan tidak terputus.

Belum Tersentuh Bantuan Pemerintah

Yang lebih memprihatinkan, Ibu Cicih mengaku hingga saat ini keluarganya belum mendapatkan bantuan sosial dari pemerintah, baik itu berupa BLT (Bantuan Langsung Tunai) maupun BPNT (Bantuan Pangan Non Tunai).

Kini, harapan satu-satunya bagi Ibu Cicih adalah adanya uluran tangan dari para dermawan atau perhatian khusus dari pemerintah daerah. Ia tidak meminta kemewahan, ia hanya ingin anaknya bisa terus bernapas dan mendapatkan perawatan yang layak tanpa harus terus-menerus dikejar utang.”Harapan saya, pengen ada bantuan. Pengen oksigen, itu saja,” pungkasnya.

Mari ulurkan tangan! Kisah Siti Nurlela adalah potret nyata betapa mahalnya biaya kesehatan bagi mereka yang kurang mampu. Mari kita bersama-sama membantu meringankan beban Ibu Cicih dan memberikan harapan sembuh bagi Siti.

Hingga berita ini ditayangkan, tim redaksi masih terus berupaya melakukan konfirmasi lebih lanjut kepada pihak Pemerintah Desa Nasol maupun Dinas terkait untuk memastikan tindak lanjut bantuan jaminan kesehatan bagi Siti Nurlela.(ADI SUMARNA)***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *