
Bandung, NUANSA POST
Tim panggung 59 yang dinahkodai Jonas Atjas Ualubun bersama Jonatan warinussy dan Fredy Clau didukung oleh partnership Kapitan Pattimura, Kedai rasta, G coffee, Warung Joseph, Trada studio dan media partner Nuansa Post menyelenggarakan malam diskusi PANGGUNG 59 bertema “Jadilah Terang Untuk Kampung Halaman” yang dihadiri generasi Muda-Mudi Papua dan Maluku baik yang tengah mengenyam pendidikan kuliah di Bandung maupun yang telah selesai wisuda.Acara ini sebagai wadah dalam menyongsong generasi handal bagi masa kini dan masa depan Papua.
Senin malam (30/6/2025) bertempat di Danau Sentani Resto, acara Talkshow Jadilah Terang Untuk Kampung Halaman menghadirkan narasumber Jonatan, Ijal Pace Sunda, Adit dan Putri. Mereka berdiskusi saling memberikan masukan serta pengalaman yang bukan kaleng – kaleng, syarat dengan pengalaman getirnya perjalanan kehidupan serta perjuangan malang melintang mencari ilmu hingga berkuliah diluar negeri dan kembali ke Indonesia. Apa yang harus diperbuat agar bermanfaat bagi kampung halaman?
Acara dikemas apik, bersahaja, santai nampak suasana begitu mencair satu sama lain dengan disisipi hiburan special performance dari ; TRADASTUDIO.ID, TRITON BANDUNG, DJ LUKES, JYSKIND, ADAM, NAKEANORI, ASWETSY, GUNTUR, KATON, YOUNDRY, dan COKER yang dipandu oleh MC Jonatan Warinussy dan Joiyz Luiyz Vernando Rumangun, menambah spirit Indonesia Timur semakin menyala malam itu saling menuangkan buah pikiran melesat bagai rocket yang ingin mengabdikan diri kepada kampung halamannya baik Papua maupun Maluku.
Atjas sapaan akrabnya sebagai Ketua Penyelenggara ‘JADILAH TERANG UNTUK KAMPUNG HALAMAN’ mengungkapkan kepada Nuansa Post bahwa berbicara Indonesia Timur, stigma negatif dari orang-orang melihat Papua masih terasa kental.
“Kita bareng teman – teman Indonesia Timur terutama dari Papua dan Maluku yang berada di Bandung. Kita tunjukan hal-hal positif bahwa ada generasi muda yang memiliki tujuan sedang terus membuat satu perubahan. Baik dari segi cara pandang ke Papua sendiri maupun kita sebagai generasi masa depan, untuk saling memotivasi dan yang menjadi golnya adalah mewujudkan makna yang terkandung dalam Jadilah Terang Untuk Kampung Halaman,” tutur Atjas.
Atjas menerangkan diskusi/ talkshow serupa lebih dominan dihelat secara rutin di Cilaki 59 Bandung karena merupakan home base nya dan baru kali pertamanya diskusi dilakukan tempat lain.
“Jujur hari ini tuh bagaimana caranya memanggil anak-anak Papua sendiri, untuk kembali melayani saudara-saudara kami di pedalaman Papua. Tapi tujuan ini besarnya tuh bukan cuman asal cari aja tapi yang kita lakukan adalah itu tadi, bagaimana dapat merubah cara pandang orang-orang bahwa Papua tidak dipandang dari segi negatif saja. Ada anak-anak muda yang punya talenta-talenta berkemampuan membuat perubahan di Papua,” paparnya.
Atjas menegaskan, bersama wadah komunitas-komunitas Papua maupun Maluku yang berada di Bandung, ia tengah mengorganisir yang terstruktur. Hal itu telah dibuktikannya dengan membuat percontohan pembentukan skill yang mumpuni sebagai sampel di panggung Cilaki 59. Tempat tersebut menjadikan anak-anak dapat menyalurkan sesuai potensi dirinya dan telah membuahkan karya-karya nyata yang kompetitif.
“Cilaki 59 pusat tempatnya Teman-teman yang jago melukis, banyak yang jago nyanyi, jago coding dan segala macem termasuk bidang kuliner. Ini yang sedang kita persiapkan untuk diperbuat di kampung halaman Papua nanti. Regenerasi terus berjalan bisa dalam 10-20 tahun kedepan nanti harus ada generasi berikutnya yang melanjutkannya, tentunya selain harus bermanfaatnya hasil dari berkuliah di Bandung untuk diterapkan di Kampung halaman Papua,” harap Atjas.
Ketua panitia diskusi JADILAH TERANG UNTUK KAMPUNG HALAMAN Atjas adalah seorang ahli IT yang banyak bergelut di bidang tekhnologi. Bagaimana teknologi satelit merekam Papua yang begitu kaya raya akan sumber daya alam.
“Teman-teman yang ada di Papua, siapapun yang punya ilmu pengetahuan yang luar biasa untuk membudidayakannya atau mengamalkan kebermanfaatan keilmuannya kepada SDM lokal Papua yang ada disana. Tiada lain untuk membangun Papua sendiri. Kita Bangun Papua Untuk Kita Oleh Kita,” seruannya.
Tak dipungkiri oleh dua narasumber pasangan suami istri yakni Putri (asal Medan) dan Adit (asal bandung) mereka mendedikasikan hidupnya menetap di Papua guna mencurahkan pengabdian hidupnya pada dunia pendidikan anak-anak di Papua. Mereka mengungkapkan bahwa hal tersulit saat ini adalah mendapatkan tenaga pendidik asal dari Papua itu sendiri.
“Panjang perjalanan ceritanya, mulai bertentangan dengan masing-masing orang tua yang pasti khawatir akan keselamatan kita tinggal di Papua. Di dunia ini tidak ada yang adil namun keteguhan menjadi jalan Tuhan mempersatukan kami. Kami bersukur diberi berkat kesempatan oleh Tuhan dan itulah yang menguatkan kami untuk mengambil arah jalan hidup membantu dunia pendidikan di Papua. Jangan kita niatkan hanya karena manusia untuk berbuat kebermanfaatan karena pasti akan sakit hati. Ini jelas berkat Tuhan kepada kami,” terang Adit gayung bersambut Putri.
Putri lebih menekankan pentingnya kepada generasi muda Papua untuk meneguhkan diri dan Adit yang mengamati para generasi yang hadir dirinya merasa bangga dan angkat topi kepada mereka dari gerakan kecil tapi penuh makna mendalam adanya beberapa orang yang mengambil sampah dan membereskannya agar tidak mengotori ruangan resto milik orang tempat acara berlangsung, hal itu dinilainya sebagai langkah maju para generasi muda Papua dan Maluku sebagai bentuk kepedulian akan tempat yang mereka pijak.
Keduanya menyoroti berbagai mass media yang kerap memberitakan kabar buruknya tentang Papua. Padahal kenyataannya kehidupan di Papua itu sungguh bersahaja dengan kekayaan alam dan keindahan alamnya yang sangat menawan. Diharapkannya agar media resmi dapat banyak memberitakan kabar-kabar yang positif untuk keberlangsungan kemajuan Papua.
Adit dan Putri sangat mendukung kegiatan diskusi serupa, ia tak segan untuk mengacungkan jempol sebagai tanda apresiasi setinggi-tingginya kepada para generasi muda mahasiswa Papua-Maluku di Bandung yang berkolaborasi dengan semangat gigih menyelenggarakan acara diskusi talkshow yang dinilainya sangat bermanfaat.
Dalam memupuk generasi yang tangguh dan siap mengabdikan diri di daerah pedalaman bukan hanya di Papua melainkan diseluruh Nusantara maka harusnya terasah dan teruji baik spiritualnya maupun bekal keilmuannya untuk bermanfaat “Jadilah Terang Untuk Kampung Halaman”. (RIEZKY & AS)






