BANDUNG—- DR Drs H Anton Charliyan MPKN, yang lebih dikenal sebagai Abah Anton Charly, tokoh nasional Budayawan Sunda yang sehari harinya berprofesi juga sebagai dosen di STISIP , diundang sebagai salah satu nara sumber dalam Seminar Nasional yang disponsori Dana Indonesiana dari LPDP Dilaksanakan di Fakultas Ilmu Budaya Unpad Bandung di Aula Sastra Jepang mengambil Judul : ANTI STUNTING DALAM NASKAH SUNDA KUNO.
Hadir dalam seminar tsb sebagai nara sumber lain al : Prof Dr Nurhayati R. M Hum dari Unhas. , Warek FIB Unpad , Dr Elis N Suryani, Dr Undang Ahmad Darsa dari Unpad, Dr Wina Erwina PhD dari Universitas Komunikasi , dan Abah Dr Anton Charly sendiri Dari STISIP Tasikmalaya , dengan moderator Dr Rahmat Sopian dari FIB Unpad.
Dari hasil seminar tsb, Anton Charliyan yang saat ini sebagai Ketua Umum Majelis Adat Sunda (MASDA) Jabar mengatakan : intinya bisa disimpulkan bahwa ternyata program anti stunting sudah tercatat dalam naskah naskah peninggalan leluhur kita sejak dulu, antara lain sudah ada dalam Naskah Sunda Kuno yaitu : Sanghyang Titisjati Pralina. : yang memandu dengan terperinci bagaimana harus merawat bayi mulai dari kandungan 1 bulan, sampai 10 bulan, serta mengurusnya sampai menjadi balita yang sehat dan kuat.
Lain lagi yang dicatat dalam Naskah Laga Ligo bahwa setiap ibu hamil dan anak balita wajib makan ikan, terutama ikan laut. agar pertumbuhan badanya tinggi dan sehat, sebab bila nanti melahirkan bayi yang pendek dan tidak sehat akan di buang ke pulau terpencil, sehingga dengan demikian setiap masyarakat Bugis yang sedang mengandung berlomba untuk konsumsi makanan sehat dan bergizi sejak dini karena takut di buang ke pulau terpencil.
Naskah Kuno lain misal : di Bali dikenal dengan Lontar Ushada Taru Pramana : Mencatat Khasiat Ratusan Tanaman obat termasuk Stunting.
Di Jawa : Serat Centini, Naskah Merapi Merbabu yang mencatat tentang cara meracik jamu, teknik pijat urut, teknik pernapasan/ yoga, sampai kepada olah tubuh untuk menghilangkan berbagai penyakit. Ditambah dengan doa khusus yang dikenal dengan mantra.
Kalau di Sumatra : Pusataka Laklak yang mencatat tentang ramuan obat dan mantra magis.
Adapun teknik perawatan dan pengobatan anti stunting di masa lalu dilakukan dengan berbagai metode yakni :
- Filo Therafy : meracik jamu/ ushada, obat rempah & minyak
- Therafy Pijat urut akhlinya disebut Paraji, dukun Patah tulang dll
- Methode Spiritual : dengan mantra, puasa, isim, tolak bala dalam bentuk benda, kain rajah, tanaman, logam, batu mulia dll.
Memasuki abad 19 karena budaya baca tulis sudah mulai memasyarakat ilmu ilmu pengobatan tsb baik methoda ushada / ramuan jamu maupun mantra tsb, dicatat dlm bentuk buku yang dikenal sebagai: Primbon atau Paririmbon .
Khusus untuk mantra sebagai methode pengobatan spiritual, banyak juga sumber naskahnya al :
Sunda : Mantra aji Cakra Banaspati
Jawa : Kidung Kawedar Sunan Kalijaga.
Kidung Rumekso ing Wengi ( Keropak 409 ) memadukan tradisi leluhur dg ajaran Islam dlm bentuk ilmu Suluk & Thasawuf. Ilmu ini di yakini oleh kalangan masyarakat banyak saat itu sebagai ilmu pengobatan yang ampuh dan praktis.
Karena kekuatan doa merupakan sesuatu yang diyakini bisa menyembuhkan berbagai penyakit dan menyelesaikan berbagai masalah manusia. Apalagi jika diterapkan oleh ahlinya yang dianggap sebagai orang Suci seperti, Wali, Ahli Suluk, Resi, Pandita, Brahmana dll.
Tapi sekarang yang menggunakan mantra lebih dikenal sebagai dukun yang malah diragukan keampuhanya, tapi kalo dulu memang pengobatan spiritual itu di laksanakan betul betul oleh ahlinya. sehingga menjadi salah satu methoda pengobatan yang diakui keberadaanya.
Itulah sekelumit stunting yang akhirnya tidak terlepas dari methoda pengobatan dan kesehatan yang ternyata sudah dilakukan para pendahulu kita, dibuktikan dg ditemukannya naskah naskah kuno, seperti yang dipaparkan diatas tadi seperti Naskah Sanghyang Titisjati Pralina, lontara Lagaligo, Lontar Ushada Taru Pramana, Serat Centini, Pustaka Laklak, Kidung Kawedar Sunan Jalihaga, Kidung Rumekso ing Weng dll.
Naskah naskah berharga tsb , kini tersimpan di Musium Nasional yg ditemukan sekitar abad ke 14 – abad 19 M. Luar biasa peninggalan para leluhur kita, dan jika Anda tertarik silahkan datang ke Musium Nasional atau Musium Sri Baduga Maharaja di Tegalega Kota Bandung. Demikian disampaikan Abah Anton Charly menutup pembicaraanya.(*****






