Uncategorized

Jejak Perjuangan KH Abbas Abdul Jamil Diperkuat 74 Sumber Primer, Pengusulan Pahlawan Nasional Kembali Bergulir

3
×

Jejak Perjuangan KH Abbas Abdul Jamil Diperkuat 74 Sumber Primer, Pengusulan Pahlawan Nasional Kembali Bergulir

Sebarkan artikel ini



‎Majalengka–NUANSA POST.

Upaya mengangkat KH Abbas Abdul Jamil sebagai Pahlawan Nasional kembali dilakukan. Kali ini, pengusulan tokoh ulama dari Buntet Pesantren, Cirebon, tersebut dibangun melalui kajian sejarah yang diperkuat puluhan dokumen primer mengenai kiprahnya sebelum hingga setelah Indonesia merdeka.

‎Penguatan bukti sejarah itu menjadi salah satu bahasan utama dalam Seminar Nasional Pengusulan Gelar Pahlawan Nasional KH Abbas Abdul Jamil yang berlangsung di Aula Gedung KH Abdul Chalim, MA Unggulan Amanatul Ummah 02 Leuwimunding, Kabupaten Majalengka, Minggu (9/8/2026).

‎Forum tersebut menghadirkan Guru Besar Sejarah Peradaban Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta sekaligus Ketua Tim Peneliti dan Pengkaji Gelar Pusat (TP2GP), Prof Dr Usep Abdul Matin, serta Ketua Umum Pergunu Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim, MA.

‎Bupati Majalengka Eman Suherman turut hadir dan membuka seminar tersebut.

‎Pemkab Majalengka Nyatakan Dukungan

‎Eman menegaskan dukungan Pemerintah Kabupaten Majalengka terhadap perjuangan menjadikan KH Abbas Abdul Jamil sebagai Pahlawan Nasional.

‎Menurutnya, perjuangan mempertahankan kemerdekaan tidak dapat dilihat hanya dari kiprah tentara atau kelompok bersenjata. Ulama, pesantren dan para santri juga mempunyai kontribusi besar dalam mempertahankan Indonesia dari berbagai ancaman setelah proklamasi.

‎”Atas nama Pemerintah Kabupaten Majalengka dan masyarakat Majalengka, kami mendukung pengusulan KH Abbas Abdul Jamil sebagai Pahlawan Nasional,” ujar Eman.

‎Ia berharap penelitian mengenai sejarah perjuangan KH Abbas terus dikembangkan dan dikenalkan kepada generasi muda. Menurutnya, pemahaman terhadap sejarah menjadi bagian penting agar jasa para tokoh bangsa tidak hilang ditelan perubahan zaman.

‎”Sejarah jangan sampai putus di generasi sekarang,” katanya.

‎Penghargaan Bukan Tujuan Perjuangan

‎Ketua Umum Pergunu Prof KH Asep Saifuddin Chalim mengatakan, pengusulan tersebut bukan sekadar upaya memberikan penghargaan kepada KH Abbas.

‎Ia menyebut KH Abbas merupakan sahabat seperjuangan ayahnya, KH Abdul Chalim, yang kemudian juga ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional. Keduanya, kata Asep, berjuang dalam situasi sulit tanpa menjadikan penghargaan sebagai tujuan.

‎”KH Abbas dan KH Abdul Chalim adalah sahabat seperjuangan yang tidak mencari gelar. Keduanya berjuang untuk kemerdekaan, bukan untuk dikenang. Tapi sebagai generasi penerus, kita wajib menghormati jasa beliau,” tutur Asep.

‎Asep menjelaskan, proses pengusulan KH Abbas sebelumnya belum mendapatkan hasil karena masih terdapat sejumlah persyaratan yang perlu diperkuat.

‎Kondisi tersebut kemudian mendorong tim untuk memperluas penelitian dengan melibatkan akademisi dan para peneliti sejarah. Penelusuran dilakukan terhadap berbagai arsip dan kesaksian sejarah, terutama dokumen yang tergolong sumber primer.

‎Ia menyebut jumlah sumber primer yang berhasil dikumpulkan kini mencapai puluhan dokumen.

‎”Insya Allah, dengan lebih dari 67 sumber primer yang telah kami kumpulkan, tahun ini KH Abbas layak dan harus diakui sebagai Pahlawan Nasional,” kata Asep.

‎Menurutnya, pengakuan tersebut tidak hanya berkaitan dengan penghormatan kepada KH Abbas secara pribadi. Penetapan itu juga dinilai akan menjadi kebanggaan bagi masyarakat Cirebon, Majalengka dan Jawa Barat.

‎Dikaitkan dengan Pertempuran Surabaya

‎Sementara itu, Prof Usep Abdul Matin memaparkan sejumlah hasil penelitian mengenai kiprah KH Abbas. Menurutnya, penelitian terhadap tokoh tersebut telah dilakukan sejak 2024 dan terus dilanjutkan hingga 2026.

‎”Ini yang ketiga kalinya saya sebagai ketua, dari 2024, 2025, dan 2026,” ujarnya.

‎Salah satu bagian penting dalam penelitian berkaitan dengan peran KH Abbas dalam rangkaian peristiwa yang kemudian mengarah pada Pertempuran Surabaya 10 November 1945.

‎Setelah Proklamasi Kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, Indonesia belum sepenuhnya berada dalam kondisi aman. Kedatangan pasukan Sekutu yang diboncengi kepentingan Belanda kembali memunculkan ancaman terhadap kemerdekaan.

‎Dalam kondisi tersebut, jaringan ulama dan santri ikut mengambil posisi dalam mempertahankan kemerdekaan.

‎Usep menyebut KH Abbas mempunyai peran dalam menentukan momentum serangan yang kemudian berlangsung pada 10 November 1945.

‎Sebelum pertempuran pecah, tepatnya 6 November 1945, KH Abbas disebut melakukan musyawarah bersama keluarga, sejumlah kiai dan santri. Pertemuan tersebut membahas siapa saja dari kalangan ulama dan santri yang akan mengambil bagian dalam perjuangan di Surabaya.

‎Setelah itu, KH Abbas bersama putranya, KH Abdullah Abbas, dan sejumlah santri berangkat menuju Tebuireng, Jombang.

‎Dalam rangkaian komunikasi dan peristiwa tersebut, KH Abbas disebut memberikan arahan mengenai waktu serangan.

‎”KH Abbas mengatakan, besok subuh harus kita serang. Artinya besok subuh itu 10 November 1945,” kata Usep.

‎Menurut Usep, keputusan tersebut mempunyai nilai strategis. Kekuatan perjuangan diarahkan menuju pusat Kota Surabaya, sementara sejumlah pasukan lainnya berada di wilayah sekitar kota.

‎Ia menilai kemampuan membaca kondisi medan dan pergerakan lawan menjadi salah satu aspek yang perlu diperhitungkan dalam melihat kontribusi KH Abbas pada rangkaian Pertempuran Surabaya.

‎Tanggal 10 November kemudian diperingati sebagai Hari Pahlawan berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 316 Tahun 1959.

‎Arsip Belanda Ikut Menjadi Bukti

‎Tidak hanya menelusuri aktivitas KH Abbas menjelang dan saat revolusi kemerdekaan, tim peneliti juga menggali kiprahnya pada masa sebelum Indonesia merdeka.

‎Salah satu kekuatan dalam dokumen pengusulan kali ini adalah banyaknya sumber primer yang ditemukan.

‎Usep menyebut dari keseluruhan sumber yang dikumpulkan, sebagian besar merupakan dokumen primer yang dibuat pada masa terjadinya peristiwa.

‎”Pengusulan KH Abbas Abdul Jamil ini paling lengkap sumber primernya. Dari 95, 74-nya sumber primer dan 23-nya sumber sekunder,” ungkap Usep.

‎Menariknya, sejumlah sumber justru berasal dari lingkungan pemerintahan kolonial Belanda.

‎Dalam sejumlah laporan dan pemberitaan pada masa tersebut, KH Abbas digambarkan sebagai sosok yang diperhitungkan oleh pemerintah Hindia Belanda.

‎Aktivitasnya sebagai pemimpin Tarekat Tijaniyah menjadi salah satu hal yang mendapat perhatian pemerintah kolonial.

‎Menurut Usep, dokumen-dokumen tersebut menunjukkan bahwa jaringan keagamaan dan pesantren yang berada di sekitar KH Abbas dipandang sebagai kekuatan yang berpotensi mendorong perlawanan terhadap pemerintah kolonial.

‎”Kalau musuh yang mengatakan, kan kuat. Berbeda kalau yang di dalam,” ujarnya.

‎Catatan mengenai aktivitas Tarekat Tijaniyah sekaligus memperlihatkan luasnya jaringan keagamaan yang dibangun KH Abbas di tengah masyarakat.

‎Dengan demikian, kiprah KH Abbas tidak hanya terlihat ketika revolusi fisik berlangsung pada 1945. Jejak perjuangannya telah terbentuk jauh sebelumnya melalui aktivitas keagamaan, pendidikan dan jaringan sosial.

‎Jaringan Pesantren hingga Hizbullah

‎Usep juga menjelaskan bahwa perjuangan KH Abbas tidak dapat dipisahkan dari jaringan pesantren dan organisasi keagamaan, khususnya Nahdlatul Ulama.

‎Pesantren menjadi salah satu ruang penting dalam membangun kader, menjaga hubungan antarkiai serta mempertahankan semangat perjuangan di tengah masyarakat.

‎Pada masa pendudukan Jepang, KH Abbas tercatat pernah berada di sejumlah lembaga yang dibentuk pemerintahan pendudukan. Namun, keberadaan tersebut menurut Usep harus dipahami berdasarkan situasi politik dan strategi perjuangan pada masa itu.

‎Di sisi lain, KH Abbas juga terhubung dengan jaringan perjuangan bersenjata seperti Hizbullah dan Sabilillah.

‎Keterlibatannya juga disebut berkaitan dengan Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP), terutama dalam konteks jaringan ulama dari Jawa Barat.

‎”Jadi sampai akhir hayatnya terus menggunakan jaringan NU, jaringan pesantren, kesejawatan dengan teman-temannya, kiai dan santri untuk meraih kemerdekaan dan mempertahankan kemerdekaan,” tutur Usep.

‎Tokoh Buntet Pesantren

‎KH Abbas Abdul Jamil lahir pada 1883 dan meninggal dunia pada 1947. Ia dikenal sebagai salah satu ulama penting dari lingkungan Buntet Pesantren, Cirebon.

‎Selain dikenal melalui aktivitas keagamaan dan pendidikan pesantren, namanya juga tercatat dalam sejarah perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

‎Perannya dalam jaringan ulama dan santri, keterlibatannya dalam berbagai organisasi perjuangan serta kiprahnya dalam membangun kader pesantren menjadi bagian dari materi penelitian untuk pengusulan gelar Pahlawan Nasional.

‎Tim peneliti juga mengkaji keberadaan Laskar Asybal, sebuah jaringan yang melibatkan anak-anak dan kalangan remaja dalam dinamika perjuangan pada masa revolusi.

‎Dengan semakin banyaknya dokumen sejarah yang berhasil dihimpun, pengusulan KH Abbas Abdul Jamil sebagai Pahlawan Nasional kini kembali mendapatkan penguatan dari sisi akademik dan sumber sejarah. (Siti Aminah)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *