Uncategorized

Merasa Dijebak dan Diperdaya, Tokoh Adat Papua Yasinta Moiwend Minta Film ‘Pesta Babi’ Dihentikan

4

​Merauke, – NUANSA POST

Tokoh masyarakat adat Papua, Yasinta Moiwend, mengaku merasa dijebak dan diperdaya setelah namanya dan wajahnya dilibatkan dalam film berjudul Pesta Babi tanpa sepengetahuan dirinya.

​Dengan penuh kesedihan, Yasinta menyebut tindakan tersebut telah meninggalkan luka batin yang mendalam bagi diri dan keluarganya. Perwakilan masyarakat adat Malind Merauke, Papua Selatan, ini menegaskan bahwa tidak pernah ada penjelasan, permintaan resmi, ataupun kesepakatan apa pun terkait keterlibatannya dalam film tersebut.

​”Saya meminta agar peredaran film Pesta Babi segera dihentikan demi menjaga martabat dan harga diri masyarakat adat,” ujar Yasinta saat ditemui di kediamannya di Provinsi Papua Selatan.

​Kronologi dan Kekecewaan

​Yasinta tak mampu menyembunyikan kekecewaannya terkait film yang kini telah disebarkan luas. Dengan nada pilu, ia mempertanyakan foto-foto dirinya yang dimuat, bahkan dijadikan ikon dalam poster film, tanpa pernah ada pemberitahuan atau persetujuan tertulis.

​Ia menegaskan bahwa dirinya tidak pernah diwawancarai untuk keperluan film tersebut. Yasinta bahkan menyatakan berani disumpah bahwa ia sama sekali tidak mengetahui keterlibatannya dalam proses pembuatan film Pesta Babi.

​”Saya baru menyadari telah dimanfaatkan setelah tidak menerima apa pun dari hasil produksi film tersebut. Hingga kini, tidak ada satu pun penjelasan yang diberikan kepada saya terkait tujuan maupun keuntungan dari film itu,” ungkapnya.

​Dimobilisasi Tanpa Kejelasan

​Lebih lanjut, Yasinta membeberkan bahwa ia telah menjalani enam kali penerbangan pulang-pergi (PP) rute Merauke–Jakarta dan tiga kali rute Merauke–Makassar. Namun, selama mobilisasi tersebut, ia mengaku tidak pernah diberikan bantuan materi ataupun transparansi finansial.

​Dengan hati yang terluka, ia baru menyadari bahwa rangkaian perjalanan dinas atau undangan yang ia penuhi selama ini ternyata berkaitan dengan produksi film Pesta Babi.

​Kekecewaannya kian bertambah karena janji-janji kecil dari pihak yang mengajaknya bepergian pun tidak terealisasi. Salah satunya adalah janji penggantian telepon seluler miliknya yang rusak, yang hingga saat ini belum juga ia terima. Hal ini membuatnya merasa dimanfaatkan lalu ditinggalkan begitu saja.

​Oleh karena itu, Yasinta mendesak pihak produser dan pihak terkait untuk segera menarik film tersebut dari peredaran guna memulihkan nama baiknya dan menjaga kehormatan masyarakat adat Malind. (**)

Exit mobile version