Sanggau, Kalimantan Barat, Nuansa Post — Teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) mulai dimanfaatkan untuk memperluas akses masyarakat berpenghasilan rendah terhadap layanan desain interior rumah sehat. Melalui Program Pengabdian Masyarakat Kolaborasi Indonesia Tahun 2026, tim dari Institut Teknologi Bandung (ITB) bersama Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) mengembangkan layanan desain interior berbasis AI bagi masyarakat di Desa Sungai Tekam, Kecamatan Sekayam, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat, kawasan perbatasan Indonesia–Malaysia
Program bertajuk “Penerapan Teknologi Kecerdasan Buatan dalam Layanan Desain Interior Rumah Sehat bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah di Daerah Perbatasan Indonesia–Malaysia” ini berangkat dari persoalan kualitas hunian yang masih menjadi tantangan bagi masyarakat berpenghasilan rendah. Laporan program mencatat persoalan rumah tidak layak huni, rendahnya literasi mengenai rumah sehat dan regulasi bangunan, serta terbatasnya akses masyarakat terhadap layanan desain yang kontekstual dan terjangkau.
Persoalan tersebut menjadi semakin penting karena kualitas hunian tidak hanya berkaitan dengan kondisi fisik bangunan, tetapi juga kesehatan, kenyamanan, stabilitas psikologis, produktivitas, dan kehidupan sosial keluarga.
AI sebagai “Co-Designer” bagi Masyarakat
Berbeda dari pendekatan yang menempatkan AI sebagai pengganti perancang, program ini menempatkan AI sebagai co-designer atau mitra bantu dalam proses perancangan. Teknologi digunakan untuk membantu masyarakat memahami kondisi rumah, mengidentifikasi persoalan ruang, mengeksplorasi alternatif tata ruang, serta mendukung proses pengambilan keputusan desain.
Dari Edukasi hingga Rekomendasi Desain
Layanan tersebut dikembangkan melalui aplikasi web “Rumah Sehat”. Platform ini dirancang sebagai media edukasi, asesmen, dan konsultasi desain rumah sehat. Pengguna dapat mempelajari prinsip rumah sehat, melakukan penilaian mandiri, memperoleh informasi mengenai kesesuaian regulasi, memasukkan data spasial dan jumlah penghuni, mendeskripsikan kondisi rumah, kemudian mengeksplorasi alternatif desain ruang melalui sistem berbasis AI.
Dengan pendekatan tersebut, proses desain yang sebelumnya relatif sulit diakses oleh masyarakat dengan keterbatasan biaya dan sumber daya dapat dilakukan secara lebih partisipatif. Masyarakat tidak sekadar menjadi penerima hasil desain, tetapi dilibatkan dalam mengidentifikasi kebutuhan dan persoalan hunian mereka sendiri.
Pelaksanaan program dilakukan melalui beberapa tahapan, mulai dari koordinasi dengan pemerintah desa dan kecamatan, identifikasi kondisi awal rumah, adaptasi sistem dan integrasi prinsip rumah sehat, sosialisasi dan workshop, pendampingan desain interior berbasis AI, hingga evaluasi dan penyusunan rekomendasi keberlanjutan.
Dalam kegiatan tersebut, aspek teknis seperti luas ruang, ventilasi, pencahayaan, kepadatan ruang, dan sanitasi dipadukan dengan pendekatan edukatif-partisipatif. Warga memperoleh kesempatan untuk memahami prinsip rumah sehat sekaligus mempraktikkan penggunaan teknologi dalam proses asesmen dan perancangan.
Menghubungkan Teknologi, Desain, dan Pemberdayaan
Program ini merupakan kolaborasi lintas bidang. ITB berperan dalam aspek desain interior rumah sehat, pengembangan masyarakat, serta teknologi multimedia dan AI, sementara UPI memperkuat aspek literasi, pendampingan penggunaan aplikasi, dan keberlanjutan berbasis komunitas. Koordinasi lapangan juga diarahkan melalui pemerintah desa dan pemangku kepentingan perumahan setempat.
Pengembangan teknologi dalam program ini sekaligus memperlihatkan bahwa transformasi digital tidak harus berhenti pada sektor industri atau perkotaan. Di kawasan perbatasan, AI dapat diarahkan untuk menjawab persoalan yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari, termasuk bagaimana keluarga dengan sumber daya terbatas dapat memahami dan meningkatkan kualitas ruang tinggalnya.
Aplikasi Rumah Sehat menjadi salah satu luaran utama program dan telah dikembangkan sebagai teknologi tepat guna berbasis AI. Selain aplikasi, program juga menghasilkan rekomendasi desain rumah sasaran, modul pelatihan, kegiatan sosialisasi, serta penguatan kapasitas kader dan relawan lokal.
Ke depan, pengembangan diarahkan tidak hanya pada penyempurnaan teknologi, tetapi juga penguatan kapasitas masyarakat dan pemerintah desa. Roadmap program mencakup pembentukan tim pengelola lokal, perluasan jumlah rumah yang memperoleh pendampingan, serta integrasi layanan dengan perencanaan pembangunan desa dan program perumahan daerah.
Inisiatif di Desa Sungai Tekam tersebut menunjukkan sebuah arah baru dalam layanan desain: AI tidak menggantikan peran manusia, tetapi dapat menjadi alat untuk mempertemukan pengetahuan desain, kebutuhan warga, dan proses pengambilan keputusan secara lebih mudah diakses. Bagi masyarakat di wilayah perbatasan, teknologi ini diharapkan dapat menjadi pintu masuk menuju hunian yang lebih sehat, fungsional, nyaman, dan sesuai dengan kebutuhan keluarga. *(Riezcky)
