Uncategorized

Lilin Harapan di Majalengka, Doa Mengalir untuk Delapan Orang yang Hilang di Anak Krakatau

2
×

Lilin Harapan di Majalengka, Doa Mengalir untuk Delapan Orang yang Hilang di Anak Krakatau

Sebarkan artikel ini

Majalengka–NUANSA POST.

Nyala lilin menerangi halaman Kantor Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Majalengka, Sabtu (19/9/2026) malam. Di tengah suasana sunyi, para jurnalis, anggota TNI-Polri, dan seniman duduk bersama, menyatukan doa untuk delapan orang yang hingga kini belum diketahui keberadaannya.

‎            Malam itu, bukan sekadar pertemuan biasa. Ada harapan yang hendak dijaga, ada keluarga yang masih menanti kabar, serta ada rasa kehilangan yang menyatukan mereka dalam sebuah munajat.

‎            Kegiatan bertajuk Munajat dan Mengheningkan Cipta untuk Jurnalis Korban Erupsi Gunung Anak Krakatau tersebut digelar sebagai bentuk solidaritas bagi lima jurnalis dan tiga kru speedboat yang hilang saat menjalankan tugas peliputan di kawasan Gunung Anak Krakatau.

Delapan Nama yang Masih Dinantikan Kepulangannya

‎Lima jurnalis yang dilaporkan hilang terdiri atas M. Bagus Khoirunnas dari Kantor Berita ANTARA, Arie Basuki dari Merdeka.com, Yudistiro Pranoto dari iNews, Firdaus Wajidi dari Anadolu Agency, serta Donal Husni, seorang jurnalis lepas.

Mereka berada dalam satu rombongan bersama tiga kru kapal, yakni Warta atau Surahman selaku nakhoda, Sukarman atau Surakman sebagai anak buah kapal, dan Heriyanto yang bertugas sebagai pemandu.

‎            Hingga munajat digelar, kabar mengenai keberadaan mereka masih menjadi penantian panjang bagi keluarga, rekan kerja, dan insan pers.

Di Antara Lilin, Puisi, dan Doa

‎Suasana haru terasa di halaman kantor PWI Majalengka. Cahaya lilin yang menyala menjadi simbol harapan di tengah ketidakpastian.

‎            Para peserta mengikuti rangkaian kegiatan dengan khidmat. Seniman teater Ocky Sandi turut menyampaikan pesan melalui pembacaan puisi, sebelum acara dilanjutkan dengan istigasah dan doa bersama.

‎            Setiap bait puisi yang dilantunkan seolah menjadi ungkapan kerinduan sekaligus dukungan moral bagi mereka yang masih menunggu kepastian nasib delapan orang tersebut.

‎            Kegiatan itu turut dihadiri Kapolsek Majalengka Kota Iptu Piki bersama Kanit Intelkam Aiptu Herawan. Perwakilan Koramil Kota Majalengka juga hadir untuk menyampaikan dukungan dan keprihatinan.

Ketika Tugas Jurnalistik Berhadapan dengan Risiko

‎Ketua PWI Majalengka, Pardi Supardi, mengungkapkan bahwa peristiwa tersebut menjadi pengingat mengenai besarnya risiko yang dapat dihadapi seorang jurnalis ketika menjalankan tugas.

‎            Menurutnya, pekerjaan jurnalistik menuntut keberanian dan tanggung jawab dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat. Namun, keberanian tersebut harus tetap diimbangi dengan perhatian terhadap keselamatan.“Makna yang kita bisa ambil dari kegiatan ini adalah bagaimana tugas seorang jurnalis itu sangat berat dan juga bisa mengancam nyawa,” ujar Pardi.

Ia berharap musibah tersebut tidak memadamkan semangat para wartawan dalam menjalankan profesinya. Sebaliknya, kejadian itu diharapkan menjadi bahan evaluasi agar insan pers semakin profesional serta lebih mengutamakan keselamatan, terutama ketika melakukan peliputan di kawasan berbahaya.

Kepolisian Turut Panjatkan Harapan

‎Kapolsek Majalengka Kota Iptu Piki menyampaikan bahwa kehadirannya bersama jajaran kepolisian merupakan bentuk kepedulian terhadap para jurnalis dan kru kapal yang masih dalam pencarian.

“Kami bersama-sama mendoakan agar delapan orang yang belum ditemukan segera mendapatkan titik terang dan bisa segera ditemukan. Semoga keluarga yang masih menunggu juga diberikan kekuatan,” kata Piki.

‎            Senada dengan itu, perwakilan Koramil Kota Majalengka menyampaikan keprihatinan atas musibah tersebut. Doa bersama diharapkan dapat menjadi penguat bagi keluarga serta rekan-rekan yang masih menantikan kabar.

Sepuluh Hari Pencarian Belum Membawa Kepastian

‎Rombongan delapan orang tersebut dilaporkan hilang kontak pada 7 September 2026 setelah berangkat menuju kawasan Gunung Anak Krakatau untuk menjalankan tugas peliputan.

‎            Tim SAR gabungan kemudian melakukan operasi pencarian untuk menemukan keberadaan mereka. Namun, setelah pencarian berlangsung selama 10 hari dan operasi resmi dihentikan, keberadaan kelima jurnalis beserta tiga kru speedboat tersebut masih belum diketahui.

‎            Di Majalengka, doa pun terus dipanjatkan. Bagi keluarga dan rekan-rekan mereka, harapan untuk mendapatkan kabar tetap menjadi sesuatu yang tak mudah dilepaskan.

‎            Malam itu, lilin-lilin yang menyala bukan hanya menerangi halaman kantor PWI. Nyala tersebut menjadi lambang solidaritas dan harapan bagi delapan orang yang masih dinantikan kabarnya. (SITI AMINAH)*****

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *