MERANTI – Di tengah berbagai tantangan dunia yang semakin kompleks, mulai dari ketegangan geopolitik hingga disrupsi teknologi, Pancasila dinilai tetap menjadi fondasi kokoh yang menjaga persatuan Indonesia sekaligus menjadi rujukan dalam mewujudkan perdamaian dunia.
Pesan itu disampaikan Wakil Bupati Kepulauan Meranti, Muzamil Baharudin, saat membacakan amanat Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) pada peringatan Hari Lahir Pancasila 2026 di halaman Kantor Bupati Kepulauan Meranti, Selasa (2/6/2026).
Mengusung tema “Pancasila Pemersatu Bangsa, Fondasi Perdamaian Dunia”, peringatan tahun ini menegaskan bahwa nilai-nilai Pancasila tidak hanya relevan dalam menjaga keutuhan bangsa, tetapi juga mampu menjadi jawaban atas kebutuhan dunia akan perdamaian yang berkeadilan.
Menurut Muzamil, Indonesia telah membuktikan bahwa keberagaman bukan penghalang untuk bersatu. Dengan lebih dari 17 ribu pulau dan ratusan kelompok etnis, Indonesia tetap berdiri sebagai bangsa yang utuh karena berpegang pada nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila.
“Di tengah dunia yang diwarnai ketidakpastian dan ancaman fragmentasi, Indonesia tetap kokoh sebagai contoh nyata bagaimana keberagaman dapat dipersatukan dalam satu ikatan kebangsaan,” ujarnya.
Ia menegaskan, Pancasila juga menjadi jangkar moral Indonesia dalam menghadapi berbagai perubahan global. Nilai musyawarah dan mufakat yang menjadi ciri bangsa Indonesia dinilai sangat relevan untuk menjembatani perbedaan dan meredam konflik yang terjadi di berbagai belahan dunia.
Muzamil menilai Indonesia tidak hanya berperan sebagai penonton dalam percaturan internasional. Kontribusi pasukan perdamaian di bawah bendera PBB, keterlibatan dalam mediasi konflik regional, hingga konsistensi menyuarakan keadilan bagi bangsa-bangsa yang masih tertindas menjadi bukti nyata implementasi nilai kemanusiaan yang adil dan beradab.
“Kita ingin dunia melihat bahwa perdamaian bukan hanya absennya perang, tetapi hadirnya keadilan bagi seluruh umat manusia,” katanya.
Dalam kesempatan itu, ia juga mengingatkan bahwa kemajuan ekonomi dan teknologi harus berjalan seiring dengan nilai moral. Karena itu, generasi muda diminta menjadikan Pancasila sebagai ideologi yang hidup dan terus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Ia menegaskan bahwa nilai-nilai Pancasila tidak boleh berhenti sebagai slogan atau simbol semata, melainkan harus menjadi dasar dalam pengambilan kebijakan dan pelayanan kepada masyarakat.
Kepada para pemimpin daerah dan penyelenggara pemerintahan, Muzamil berpesan agar setiap kebijakan yang diambil benar-benar berpihak kepada keadilan sosial, melindungi kelompok masyarakat yang paling rentan, serta menolak segala bentuk intoleransi dan radikalisme yang berpotensi merusak persatuan bangsa.
“Mari kita tunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia adalah bangsa besar yang menjunjung tinggi nilai religiusitas, persatuan, dan kemanusiaan. Selama darah Indonesia masih mengalir di tubuh kita, Pancasila akan tetap hidup dalam setiap denyut nadi anak bangsa,” pungkasnya. (Michael)






